Menu

Alat Kesehatan

Rumah Sakit

Pengertian Audiometri Yang Benar

August 7, 2017
Audiometri adalah suatu metode pemeriksaan fungsi pendengaran dengan menggunakan suatu alat yang dapat menghasilkan suara dengan berbagai frekuensi dan kekuatan.Pemeriksaan ini kurang akurat jika digunakan pada seorang anak atau orang yang tidak mengerti perintah, karena penggunaan alat ini mengharuskan pasien untuk mengerti perintah saat mendengar suara. Pada orang yang tidak mengerti perintah akan kebingungan sehingga hasilnya kurang baik. Pemeriksaan audiometri ini penting untuk mengetahui penurunan ambang pendengaran karena biasanya orang tidak akan mengeluh sampai ambang pendengarannya menurun drastis. Bagi orang-orang yang bekerja pada daerah dengan tingkat kebisingan tinggi sebaiknya periksa audiometri secara rutin, dan perusahaan yang mempekerjakan orang pada tingkat kebisingan yang tinggi juga wajib memberikan pemeriksaan audiometri pada karyawannya, karena penurunan ambang pendengaran pekerja semacam ini termasuk dalam penyakit akibat kerja.
 
Sebenarnya ada 2 macam audiometri yakni audiometri nada murni(pure tone) dan audiometri tutur. Audiometri nada murni hanya menggunakan nada yang telah direkam dalam alat, sedangkan audiometri tutur dengan menggunakan suara tutur kata-kata yang telah ditentukan. Saat ini audiometri nada murni yang paling banyak dikerjakan diberbagai tempat karena lebih mudah dan objektif. Pada kesempatan ini saya hanya akan membahas audiometri nada murni saja.

Pemeriksaan ini dilakukan dengan cara pasien masuk di dalam ruang kedap suara dan mengenakan headset khusus, kemudian diminta menekan tombol jika mendengar suara. Pada beberapa alat audiometri terbaru yang portable tidak memerlukan ruang kedap suara headsetnya sudah cukup untuk menahan suara dari luar. 

 

Hasil dari alat audiometri akan muncul berupa kertas dengan grafik yang disebut audiogram. dari pembacaan audiogram inilah kita tahu apakah fungsi pendengaran masih baik atau sudah berkurang bahkan hingga tuli. Audiogram berbentuk seperti berikut:
Audiogram dasar yang paling sederhana berbentuk tabel untuk membentuk grafik. Axis vertikal menunjukkan frekuensi suara yang diperdengarkan. Jika anda bayangkan sebuah piano atau alat musik lain, tuts untuk nada terendah adalah suara dengan frekuensi terendah. Axis horizontal adalah kekuatan suara yang diperdengarkan dengan satuan desibel. Semakin keras suaranya semakin tinggi nilai desibelnya. Sehingga jika suara-suara disekitar kita dimasukkan ke dalam audiogram kurang lebih seperti ini:
Gambar di atas menunjukkan beberapa hal yang dapat menimbulkan suara dengan frekuensi dan kekuatan tertentu. Misal kicauan burung frekuensinya tinggi dengan kekuatan rendah, suara pesawat frekuensi tinggi dengan kekuatan yang sangat kuat. Pada hasil audiogram setiap kali orang yang diperiksa menekan tombol saat mendengar frekuensi tertentu akan muncul titik-titik di dalam audiogram yang nantinya akan menjadi garis batas ambang pendengaran. Orang tersebut hanya dapat mendengar suara dengan kekuatan desibel lebih besar dari garis tersebut. Pada gambar sebelah kiri dibawah, area putih adalah area yang tidak bisa didengar orang tersebut, sedangkan area berwarna kuning adalah area suara yang dapat didengar orang tersebut. Sehingga jika kita bandingkan orang tersebut tidak akan bisa mendengar suara burung, tetapi masih bisa mendengar ucapan orang atau suara-suara yang lebih keras.
 
Namun, dalam pembacaan secara medis tentunya tidak sesederhana itu, terdapat berbagai hal yang harus diperhatikan dan dihitung agar hasil diagnosis objektif. Sebelum masuk dalam pembacaan audiogram secara medis, mari kita simak terlebih dahulu simbol-simbol dan istilah yang akan muncul dalam audiogram ini.
 
  • Hertz                  :  Standar pengukuran untuk frekuensi suara. Pada audigram biasanya berkisar antara 250 Hz - 8000Hz
  • Desibel(dB HL)  :  Standar pengukuran untuk amplitudo atau kekerasan(intensitas) suara. Pada audiogram biasanya berkisar antara 0-110 dB HL
  • warna merah dan biru : jika yang diperiksa adalah telinga kiri maka titik dan garisnya berwarna  biru, sebaliknya jika telinga kanan yang diperiksa maka titik dan garis berwarna merah.
  • o dan x   : Kedua simbol untuk pemeriksaan hantaran udara(air conduction/AC), o untuk telinga kanan, dan x untuk telinga kiri.
  • and >  : Kedua simbol untuk pemeriksaan hantaran tulang (bone conduction/BC), < untuk telinga kanan dan > untuk telinga kiri
  • AC  : Air conduction, suara yang dihantarkan melalui udara
  • BC : Bone conduction, suara yang dihantarkan melalui tulang, pemeriksaan dengan bagian headset khusus yang dipasang di belakang daun telinga.

 

Simbol dan istilah diatas adalah yang paling sederhana, pada pemeriksaan yang lebih detail terdapat lebih banyak simbol seperti untuk masking, adanya implan, dsb. Setelah mengerti simbol-simbol tersebut sekarang kita bisa membaca sebuah audiogram dengan beberapa aturan:
1. Berdasarkan tingkat desibel terendah yang mulai dapat didengar, maka gangguan pendengaran dapat dibagi menjadi:
            a. -10 dB - 25 dB : Normal 
            b. 26 dB - 40 dB  : Ringan (Mild impairment)
            c. 41 dB - 55 dB  : Sedang (Moderate impairment)
            d. 56 dB - 70 dB  : Sedang-berat (moderate to severe impairment)
            e. 71 dB - 85 dB  : Berat (Severe impairment)
            f. > 85 dB            : Sangat berat (Very severe impairment)
*beberapa sumber ada yang berbeda sekitar 5 dB pada pengelompokan diatas.
Karena ada beberapa pemeriksaan di beberapa frekuensi mungkin kita bingung menggunakan yang mana sebagai penentu. Untuk menghitung ambang dengar kita gunakan hasil intensitas suara pada frekuensi 500 Hz, 1000 Hz, dan 2000 Hz, ketiganya dijumlahkan kemudian dibagi tiga. Rata-rata itulah yang menjadi ambang dengar pendengaran pasien.
 
2. Penentuan tipe gangguan pendengaran
Untuk menentukan tipe gangguan pendengaran apakah gangguan konduksi, sensorineural atau campuran, kita harus membandingkan hasil audiometri bagian AC dan BC. Sebelum masuk ke pembandingan kita ingat dulu bahwa proses suara bisa diterima otak adalah melalui telinga bagian luar, tengah dan dalam. Pemeriksaan AC dengan hantaran udara memeriksa semua bagian telinga karena suara akan dihantarkan melalui semua bagian telinga. Sedangkan pada pemeriksaan BC, suara dihantarkan langsung melalui tulang tengkorak sehingga menyingkat langsung menuju telinga bagian dalam dan tidak memeriksa telinga luar maupun telinga tengah. Telinga luar dan telinga tengah berperan dalam hantaran suara, sedangkan telinga dalam terdapat saraf yang menerima rangsang suara. Dari teori tersebut dapat kita simpulkan jika:
 
a. Hasil AC terdapat peningkatan, dan BC dalam batas normal berarti ada gangguan pada telinga luar atau telinga tengah, sedangkan telinga dalam normal sehingga dapat disimpulkan gangguan pendengaran tipe konduksi.
b. Hasil AC dan BC terdapat peningkatan dengan hasil yang hampir sama, berarti terdapat gangguan di telinga dalam, sehingga disimpulkan gangguan pendengaran tipe sensorineural.
c. Hasil BC terdapat peningkatan ambang pendengaran, dan hasil AC juga meningkat lebih jauh berarti terdapat gangguan baik di telinga luar atau tengah dan telinga dalam, sehingga disimpulkan terdapat gangguan pendengaran tipe campuran.
 
Ringkasan:
1. Pemeriksaan pendengaran bisa dilakukan dengan alat audiometri.
2. Pada pemeriksaan audiometri akan didapatkan hasil audiogram yang harus diinterpretasi.
3. Dengan interpretasi hasil audiogram bisa diketahui adanya gangguan pendengaran jika ambang pendengaran terendah >25 dB
4. Dengan perbandingan hasil audiometri AC dan BC maka dapat diketahui jenis gangguan pendengaran: konduksi, sensorineural, atau campuran
 
Mudahkan?!, jadi periksakan pendengaran anda secara rutin. Pemeriksaan ini bisa dilakukan di laboratorium kesehatan, dokter spesialis THT atau fasilitas kesehatan tertentu.
 
 
Sumber:

Go Back

Comment

Blog Search

Blog Archive

Comments

There are currently no blog comments.